Kamis, 16 Desember 2010
Selasa, 26 Mei 2009
Suatu hari yang terik, duduklah seorang wartawan di depan patung pahlawan kemerdekaan Indonesia yang entah siapa namanya. Coz g ada namanya se. Dasar tu, pemerintah tu masa bikin patung pahlawan g dikasih nama. Itukan artinya menghilangkan identitas. Wah klo sampai aq jadi patung itu, q marahin abis-abisan tu pemerintah. Siapa se bupatinya????? Mang g pernah diajari bagaimana menghargai pahlawan?? he he.....
Rabu, 18 Februari 2009
Aku Ibumu Jangan Bunuh Aku dengan Egomu
"KETERLALUAN si Iyah", itulah kata yang terlontar dari bibir Lastri, ibu RT01, Desa Natai Baru, Kecamatan Arut Selatan (Arsel) Kobar, saat menuturkan betapa kejamnya perlakuan Iyah kepada ibunya Saminah.
Inilah rumah tempat Saminah disekap.
Umpatan Lasri, pantas terlontar, menengok Iyah tega menyekap ibunya berbulan-bulan dalam kamar sempit berukuran 1,5X2 meter, tanpa kasur, ventilasi, dan kamar mandi.
Akibatnya, aktivitas buang air kecil maupun air besar Saminah dilakukan di dalam kamar, tanpa air, hingga menyebabkan bau tidak sedap menyeruak dari celah-celah dinding kamar.
Ironisnya lagi, Iyah dan saudaranya perempuannya Marsinah yang tidak menetap di rumah tempat penyekapan Marsiah, jarang memberi makan sang ibu yang telah renta dan tidak bisa melihat.
Bahkan terkadang, Iyah maupun Marsinah tidak mengantar makanan.
Karena lapar dan tidak bisa keluar, Saminah pun sering berteriak-teriak, terutama pada malam hari.
Teriakan lirih inilah yang kemudian mengundang perhatian para tetangga untuk memberi sepiring nasi.
Hanya saja, niat baik para tetangga itu justru dipandang sebelah mata oleh Iyah dan Marsinah. Kedua menganggap bantuan para tetangga itu merupakan bentuk pelecehan.
Hal itu dibuktikan melalui umpatan-umpatan yang biasa terlontar dari mulut keduanya saat mengetahui ada tetangga membantu ibunya.
Namun, berbanding terbalik, keduanya sumringah jika bantuan para tetangga itu diberikan dalam bentuk uang.
"Kasihan melihat kondisi mbah (panggilan Saminah), dia nggak pernah dimandikan. Kalau malam nggak dijaga, nggak diberi lampu, saya penah masuk malam-malam, nyamuknya minta ampun. Sapi saja kita beri lampu kalau malam, dan kita mandikan minimal seminggu sekali," ungkap Lastri menyesalkan tindakan Iyah dan Marsinah.
Heri, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN)1 Desa Natai Baru melanjutkan tindakan anak-anak Saminah memang sudah di luar batas ambang prikemanusian.
Ia mengaku para tetangga dan ketua RT juga telah berusaha menasihati kedua anak Saminah itu.
Akan tetapi, semua itu hanya dianggap angin lalu yang berhembus tanpa maksud. Kedua tetap tidak mengindahkan dan membiarkan orang tua yang telah membesarkan mereka hidup dalam penderitaan luar biasa.
Anak Marsiah, Adi Heryanto yang baru duduk di kelas tiga SD mengaku telah menanyakan kepada ibunya perihal keengganannya mengususi sang nenek.
Akan tetapi, ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. "Mbuh, Mak e ora gelem, (tidak tahu, ibu tidak mau)," ucapnya dalam bahasa Jawa.
Saminah yang coba ditemui, enggan bertutur. Ia hanya mengatakan lapar dan haus.
"Sego ne endi (nasinya mana) Nur (panggilan Iyah), banyu ne endi (air minumnya mana)," ucapnya lirih.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Natai Baru Suwandi mengaku telah mengetahui kejadian ini dan sudah menasihati Iyah dan Marsinah.
Namun, semua nasihat itu tidak juga diindahkan.
Walau begitu, ia berjanji akan kembali menemui kedua anak Saminah itu untuk kembali memperingatkan mereka.
Selain itu, ia berharap pihak terkait seperti Dinas Sosial bisa memperhatikan masalah ini.
"Rencananya nanti saya panggil. Apa benar, kok dibiarkan. Saya mengetahui ini dari laporan ketua RT01," tandasnya.
Sedangkan Iyah, membantah keras jika dirinya telah menyiksa ibunya.
Langganan:
Postingan (Atom)
